Rabu, 16 Desember 2015

Duta Peduli Autis Di Sekolah SMP ISLAM ASSAADATUL ABADIYAH dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia


Kelas                      : LI01
Dosen                     : KETUT BUDIASA
Kode Dosen               : D2849
Waktu                    : Senin,16-11-2015
Pukul                      : 09:00 - 09:30
Lokasi                    : SMP ISLAM ASSAADATUL ABADIYAH  Jl. Tg. Duren Utara, Grogol Petamburan
Jumlah siswa/peserta    : 29
Hadir :
Ketua                    : Eric
Anggota               :
1. Michael Liando
2. Novraldy Xaverius Lihawa
3. Keron
4. Anthony Aurelius
5. Micahel Joshua
6. Stepahnus Feriko
Anggota tidak hadir : -
Foto : 


 Siswa - siswi yang antusias

 Siswa - Siswi sedang mendengarkan

Kondisi Kelas 7 minggu ke 2
Foto Bersama siswa - siswi di minggu terakhir
 Foto bersama perwakilan Sekolah
 SMP ISLAM ASSAADATUL ABADIYAH 

Form Evaluasi Minggu ke 2


Isi
Dikelas Minggu kedua di sekolah kedua, kami mengajarkan sama seperti di kelas sebelmnya mengenai membangun hubungan yang baik antara sesama manusia, terutama dengan orang – orang penyandang Autis ,kami menekankan bahwa Autis bukan lah sebuah penyakit , mereka hanya mengalami keterbelakangan mental, dan mereka tetap manusia sama seperti kita ,apapun latar belakangnya mereka tetap orang – orang yang kita bisa ajak berteman bukannya di kucilkan.
Persiapan yang dilakukan sudah lebih sedikit ,karena kami sudah menyesuasikan diri dengan sekolah kedua ini dan juga kami menggunakan slide presentasi yang sama dan koordinasi waktu sudah kami sepakati bersama akan waktu kunjungan sosialisasi kami. Pembelajaran dikelas yang kami terapkan adalah melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati dengan seluruh kemampuan kami.

Kami langsung masuk ke kelas yang dipersiapkan oleh kepala sekolah dimana kelas tersebut berada di lantai satu,kelas yang diberikan oleh kepala sekolah adalah kelas 7 dan berada tepat disebelah kelas minggu lalu ,karena hanya kelas tersebut yang sedang kosong. saat kami masuk dimana kelas tersebut telah didesain sedemikian rupa sehingga murid-murid dapat memahami apa yang kami sosialisasikan dengan baik,dan juga terdapat proyektor di setiap kelas,namun lagi - lagi tidak bisa kami pakai dikarenakan adanya kesalahan teknis. 

Menurut kelompok kami ada beberapa hal yang perlu dijadikan pembelajaran disaat kegiatan sosialisasi kali ini. Beberapa hal seperti inisiatif antar satu sama lain untuk menciptakan lingkungan sosialisasi yang nyaman dimana tetap menjaga kondisi kelas tetap kondusif. Anggota yang dapat dijadikan panutan kali ini adalah Anthony,dia melakukan yang terbaik lewat penyampaian presentasinya yang luar biasa,ada juga Novraldy dimana dia mengajak berbicara para siswa - siswi,sehingga siswa - siswi lebih enjoy dengan kami.
Kami semua tetap belajar untuk siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis dari murid-murid peserta sosialisasi, karena peserta anak SMP yang masih dini dimana rasa ingin tahunya tinggi sehingga mereka terus melontarkan pertanyaan – pertanyaan yang bervariasi.

Hasil kegiatan : Dari pengamatan kami murid-murid dikelas pertama ini kami melihat bahwa siswa – siswa merasa jika mereka sadar sudah melakukan hal yang kurang baik,dimana seharusnya mereka tetap harus menghargai orang autis ,karena bukan sebuah bahan ejekan atau orang yang harus dikucilkan namun adalah orang-orang yang harus diajak berteman.
Kinerja yang telah dilakukan berdasarkan survey dari guru yang mengawasi sudah baik, cara penyampaian, materi serta kerjasama dalam presentasi dinilai sangat baik oleh guru yang menemani kami.
Saran untuk sekolah dari beberapa kelompok kami adalah jangan hanya bergantung kepada kami untuk mensosialisasikan lingkungan sosial ini,karena sekolah meminta kami untuk mensosiaslisasikan 4 kelas tetapi kami tidak bisa, dikarenakan keterbatasan waktu dan kami berharap sekolah juga mau berpartisipasi untuk meningkatkan pengajaran tentang lingkungan sosial ini disekolah mereka sendiri.

Kesimpulan dari yang kami lakukan adalah bahwa masih banyak siswa – siswa kelas 7 sama seperti kelas sebelumnya yang tidak sadar autis itu bukan lah bahan ejekan,karena mereka pada awalnya menganggap autis itu adalah orang – orang yang gila,dan sejenisnya.Tetapi setelah sosialisasi ini kami yakin mereka sudah sadar bahwa orang Autis itu bukan lah orang – orang seperti itu, namun orang – orang yang harus kita ajak berteman juga, bukannya di kucilkan karena kita itu sama –sama Manusia Ciptaan Tuhan.

Selasa, 15 Desember 2015

Duta Peduli Autis Di Sekolah SMP ISLAM ASSAADATUL ABADIYAH dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia


Kelas                      : LI01
Dosen                     : KETUT BUDIASA
Kode Dosen               : D2849
Waktu                    : Senin,26-10-2015
Pukul                      : 09:00 - 09:30
Lokasi                    : SMP ISLAM ASSAADATUL ABADIYAH  Jl. Tg. Duren Utara, Grogol Petamburan
Jumlah siswa/peserta    : 30
Hadir :
Ketua                    : Eric
Anggota               :
1. Michael Liando
2. Novraldy Xaverius Lihawa
3. Keron
4. Anthony Aurelius
5. Micahel Joshua
6. Stepahnus Feriko
Anggota tidak hadir : -
Foto:

Antusias Siswa untuk bertanya 

 Antusias siswa-siswi saat sosialisasi
 Siswa - Siswi kelas berdiskusi tentang 
pertanyaan yang kami ajukan
Siswa -- siswi sedang mendengarkan

Form Evaluasi Minggu Pertama



Isi
Dikelas Minggu pertama di sekolah kedua, kami mengajarkan sama seperti sekolah sebelmnya mengenai membangun hubungan yang baik antara sesama manusia, terutama dengan orang – orang penyandang Autis ,kami menekankan bahwa Autis bukan lah sebuah penyakit , mereka hanya mengalami keterbelakangan mental, dan mereka tetap manusia sama seperti kita ,apapun latar belakangnya mereka tetap orang – orang yang kita bisa ajak berteman bukannya di kucilkan.
Persiapan yang dilakukan hampir sama dengan sekolah pertama,karena kami menggunakan slide presentasi yang sama dan survey yang bersamaan dengan sekolah pertama, dimulai dari survey ke sekolah yang kemudian mengatur janji dengan kepala sekolah untuk kami memberitahukan maksud dan tujuan kami melakukan sosialisasi ini, lalu kami menyusun jadwal bersama pihak sekolah, menyusun presentasi yang nantinya akan dipresentasikan pada anak-anak disekolah. Adapun latihan dalam persiapan presentasi sehingga nantinya kami dapat memberikan yang terbaik, untuk koordinasi waktu kami menyepakati bersama akan waktu kunjungan sosialisasi kami. Pembelajaran dikelas yang kami terapkan adalah melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati dengan seluruh kemampuan kami.

Kami langsung masuk ke kelas yang dipersiapkan oleh kepala sekolah dimana kelas tersebut berada di lantai satu dan kelas yang diberikan oleh kepala sekolah adalah kelas 7 karena menurut Wakil Kepala Sekolah SMP ISLAM ASSAADATUL ABADIYAH lebih baik di sosialisasikan ke anak – anak yang masih dini, saat kami masuk dimana kelas tersebut telah didesain sedemikian rupa sehingga murid-murid dapat memahami apa yang kami sosialisasikan dengan baik,dan juga terdapat proyektor di setiap kelas,namun sayangnya tidak bisa kami pakai dikarenakan adanya kesalahan teknis. 

Menurut kelompok kami ada beberapa hal yang perlu dijadikan pembelajaran disaat kegiatan sosialisasi kali ini. Beberapa hal seperti inisiatif antar satu sama lain untuk menciptakan lingkungan sosialisasi yang nyaman dimana tetap menjaga kondisi kelas tetap kondusif. Anggota yang dapat dijadikan panutan kali ini adalah Stephanus,dia melakukan yang terbaik lewat penyampaian presentasinya yang luar biasa.
Kami semua tetap belajar untuk siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis dari murid-murid peserta sosialisasi, karena peserta anak SMP yang masih dini dimana rasa ingin tahunya tinggi sehingga mereka terus melontarkan pertanyaan – pertanyaan yang bervariasi.

Hasil kegiatan : Dari pengamatan kami murid-murid dikelas pertama ini kami melihat bahwa siswa – siswa merasa jika mereka sadar sudah melakukan hal yang kurang baik,dimana seharusnya mereka tetap harus menghargai orang autis ,karena bukan sebuah bahan ejekan atau orang yang harus dikucilkan namun adalah orang-orang yang harus diajak berteman.
Kinerja yang telah dilakukan berdasarkan survey dari guru yang mengawasi sudah baik, cara penyampaian, materi serta kerjasama dalam presentasi dinilai sangat baik oleh guru yang menemani kami.
Saran untuk sekolah dari beberapa kelompok kami adalah jangan hanya bergantung kepada kami untuk mensosialisasikan lingkungan sosial ini,namun sekolah juga mau berpartisipasi untuk meningkatkan pengajaran tentang lingkungan sosial ini disekolah mereka sendiri.

Kesimpulan dari yang kami lakukan adalah bahwa masih banyak siswa – siswa kelas 7 sama seperti sekolah sebelumnya yang tidak sadar autis itu bukan lah bahan ejekan,karena mereka pada awalnya menganggap autis itu adalah orang – orang yang gila,dan sejenisnya.Tetapi setelah sosialisasi ini kami yakin mereka sudah sadar bahwa orang Autis itu bukan lah orang – orang seperti itu, namun orang – orang yang harus kita ajak berteman juga, bukannya di kucilkan karena kita itu sama –sama Manusia Ciptaan Tuhan.

Sabtu, 28 November 2015

Duta Peduli Autis Di Sekolah SMP ISLAM AL ISRA dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia


Kelas                      : LI01
Dosen                     : KETUT BUDIASA
Kode Dosen               : D2849
Waktu                    : Selasa,19-10-2015
Pukul                      : 15:00 - 15:30
Lokasi                    : SMP ISLAM AL ISRA Jl. Tg. Duren Raya, Grogol Petamburan
Jumlah siswa/peserta    : 25
Hadir :
Ketua                    : Eric
Anggota               :
1. Michael Liando
2. Novraldy Xaverius Lihawa
3. Keron
4. Anthony Aurelius
5. Micahel Joshua
6. Stepahnus Feriko
Anggota tidak hadir : -
Foto:
Foto Bersama Pertemuan terakhir
Siswa - siswi sedang mendengarkan
Siswa - Siswa Terlihat antusias
Sesi Tanya Jawab
Form Evaluasi minggu kedua

Isi
Dikelas minggu ke 2 ini kami mendapatkan kelas 8 smp, kami mengajarkan mengenai membangun hubungan yang baik antara sesama manusia, terutama dengan orang – orang penyandang Autis ,kami menekankan bahwa Autis bukan lah sebuah penyakit , mereka hanya mengalami keterbelakangan mental, dan mereka tetap manusia sama seperti kita ,apapun latar belakangnya mereka tetap orang – orang yang kita bisa ajak berteman bukannya di kucilkan, sama seperti yang disampaikan ke kelas 7 minggu sebelumnya.
Persiapan yang dilakukan dalam kegiatan sosialisasi minggu ke 2 ini tidak terlalu banyak. Karena kami menggunakan kembali materi sebelumnya yang disampaikan minggu lalu di kelas 7,maka kami hanya kembali mereview apa yang akan di sampaikan.Sama seperti minggu lalu,pembelajaran dikelas yang kami terapkan adalah melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati dengan seluruh kemampuan kami.

Kami langsung masuk ke kelas yang dipersiapkan oleh kepala sekolah dimana kelas tersebut berada di lantai dua dan kelas yang diberikan oleh kepala sekolah adalah kelas 8 karena kelas lain sedang ada guru yang mengajar dan sedang ada materi yang dibahas,jadi beliau memberikan kelas yang kosong kepada kami, saat kami masuk dimana kelas tersebut telah didesain sedemikian rupa sehingga murid-murid dapat memahami apa yang kami sosialisasikan dengan baik. Dengan metode seperti ini murid-murid dapat dengan mudah memahami, serta mereka tidak terganggu dengan apa yang ada disekitar mereka, karena terkadang banya murid-murid yang masih ngobrol sendiri,tidak memperhatikan  bahkan mengerjakan hal-hal lain.
Menurut kelompok kami ada beberapa hal yang perlu dijadikan pembelajaran disaat kegiatan sosialisasi ini. Beberapa hal seperti inisiatif antar satu sama lain untuk menciptakan lingkungan sosialisasi yang nyaman serta dilihat oleh murid-murid suatu hal yang baik. Anggota yang dapat dijadikan panutan adalah Keron, dia mencoba untung menenangkan murid - murid karena murid - murid sibuk sendiri dan kadang ngobrol sendiri dan tidak mau memperhatikan.Dan kembali Stephanus adalah anggota yang semangat dalam kegiatan sosialisasi ini,dia menyampaikan dengan sangat baik,dan oenuh semangat.
Sama seperti minggu lalu kami semua belajar untuk siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis dari murid-murid peserta sosialisasi,kami sudah mempersiapkan semuanya dengan baik,sehingga ketika ada siswa yang ingin menanyakan sesuatu kami bisa menjawabnya dengan baik.

Hasil kegiatan : Dari pengamatan kami murid-murid dikelas 8 ini kami melihat bahwa siswa – siswa merasa juga jika mereka sadar sudah melakukan hal yang kurang baik,mereka mengaku sering mengejek teman autis,diharapkan setelah sosialisasi yang disampaikan mereka sadar dan tidak menggunakan kata autis sebagai bahan ejekan lagi.
Kinerja yang telah dilakukan berdasarkan survey dari guru yang mengawasi sudah baik, cara penyampaian, materi serta kerjasama dalam presentasi dinilai sangat baik oleh guru yang menemani kami.
Saran untuk sekolah dari beberapa kelompok kami setelah 2 minggu ini adalah meningkatkan pengajaran dan pembentukan karakter sehingga dari masa muda mereka telah dibentuk  untuk membangun suatu charcacter yang baik dalam diri mereka.Dan mengijinkan mahasiswa - mahasiswa lain pada kesempatan lainnya ,untuk kembali mensosialisasikan hal - hal yang penting.

Kesimpulan dari yang kami lakukan adalah bahwa masih banyak siswa – siswa yang tidak sadar autis itu bukan lah bahan ejekan di kelas 7 maupun di kelas 8,karena mereka pada awalnya menganggap autis itu adalah orang – orang yang gila,dan sejenisnya.Tetapi setelah sosialisasi ini kami yakin mereka sudah sadar bahwa orang Autis itu bukan lah orang – orang seperti itu, namun orang – orang yang harus kita ajak berteman juga, bukannya di kucilkan karena kita itu sama –sama Manusia Ciptaan Tuhan.

Jumat, 13 November 2015

Duta Peduli Autis Di Sekolah SMP ISLAM AL ISRA dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia


Kelas                      : LI01
Dosen                     : KETUT BUDIASA
Kode Dosen               : D2849
Waktu                    : Selasa,12-10-2015
Pukul                      : 14:20 – 15:00
Lokasi                    : SMP ISLAM AL ISRA Jl. Tg. Duren Raya, Grogol Petamburan
Jumlah siswa/peserta    : 24
Hadir :
Ketua                    : Eric
Anggota               :
1. Michael Liando
2. Novraldy Xaverius Lihawa
3. Keron
4. Anthony Aurelius
5. Micahel Joshua
6. Stepahnus Feriko
Anggota tidak hadir : -
Foto:

                                                               Siswa - siswa antusias
                                                                Sosialisasi Berlangsung
                                          Siswa - siswa senang dengan kakak" yang datang
                                                   Foto bersama wakil kepala sekolah

Form evaluasi minggu pertama 



Isi
Dikelas kami mengajarkan mengenai membangun hubungan yang baik antara sesama manusia, terutama dengan orang – orang penyandang Autis ,kami menekankan bahwa Autis bukan lah sebuah penyakit , mereka hanya mengalami keterbelakangan mental, dan mereka tetap manusia sama seperti kita ,apapun latar belakangnya mereka tetap orang – orang yang kita bisa ajak berteman bukannya di kucilkan.
Persiapan yang dilakukan dalam kegiatan sosialisasi ini lumayan panjang, dimulai dari survey ke sekolah yang kemudian mengatur janji dengan kepala sekolah untuk kami memberitahukan maksud dan tujuan kami melakukan sosialisasi ini, lalu kami menyusun jadwal bersama pihak sekolah, menyusun presentasi yang nantinya akan dipresentasikan pada anak-anak disekolah. Adapun latihan dalam persiapan presentasi sehingga nantinya kami dapat memberikan yang terbaik, untuk koordinasi waktu kami menyepakati bersama akan waktu kunjungan sosialisasi kami. Pembelajaran dikelas yang kami terapkan adalah melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati dengan seluruh kemampuan kami.

Kami langsung masuk ke kelas yang dipersiapkan oleh kepala sekolah dimana kelas tersebut berada di lantai satu dan kelas yang diberikan oleh kepala sekolah adalah kelas 7 karena menurut beliau lebih baik di sosialisasikan ke anak – anak yang masih dini, saat kami masuk dimana kelas tersebut telah didesain sedemikian rupa sehingga murid-murid dapat memahami apa yang kami sosialisasikan dengan baik. Dengan metode seperti ini murid-murid dapat dengan mudah memahami, serta mereka tidak terganggu dengan apa yang ada disekitar mereka, karena terkadang banya murid-murid yang masih ngobrol sendiri,tidak memperhatikan  bahkan mengerjakan hal-hal lain.
Menurut kelompok kami ada beberapa hal yang perlu dijadikan pembelajaran disaat kegiatan sosialisasi ini. Beberapa hal seperti inisiatif antar satu sama lain untuk menciptakan lingkungan sosialisasi yang nyaman serta dilihat oleh murid-murid suatu hal yang baik. Anggota yang dapat dijadikan panutan adalah Stephanus, dilihat dari disiplin waktu, Stephanus adalah anggota yang semangat dalam kegiatan sosialisasi ini. Selain itu juga ada Michael Joshua dimana dia jauh – jauh datang dari Kelapa Gading dengan semangat yang ada padanya, dimana dia terus tersenyum kepada siswa - siswa dan berperan dalam pembuatan slide presentasi yang menarik dan atraktif.
Anggota yang perlu lebih semangat lagi adalah Anthony, dilihat dari cara penyampaian serta tanggung jawabnya ,merupakan hal yang dapat kita pelajari.
Kami semua belajar untuk siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis dari murid-murid peserta sosialisasi, karena peserta anak SMP yang masih dini dimana rasa ingin tahunya tinggi sehingga mereka terus melontarkan pertanyaan – pertanyaan yang bervariasi.

Hasil kegiatan : Dari pengamatan kami murid-murid dikelas pertama ini kami melihat bahwa siswa – siswa merasa jika mereka sadar sudah melakukan hal yang kurang baik,dimana seharusnya mereka tetap harus menghargai orang autis ,karena bukan sebuah bahan ejekan atau orang yang harus dikucilkan namun adalah orang-orang yang harus diajak berteman.
Kinerja yang telah dilakukan berdasarkan survey dari guru yang mengawasi sudah baik, cara penyampaian, materi serta kerjasama dalam presentasi dinilai sangat baik oleh guru yang menemani kami.
Saran untuk sekolah dari beberapa kelompok kami adalah meningkatkan pengajaran dan pembentukan karakter sehingga dari masa muda mereka telah dibentuk  untuk membangun suatu charcacter yang baik dalam diri mereka.

Kesimpulan dari yang kami lakukan adalah bahwa masih banyak siswa – siswa yang tidak sadar autis itu bukan lah bahan ejekan,karena mereka pada awalnya menganggap autis itu adalah orang – orang yang gila,dan sejenisnya.Tetapi setelah sosialisasi ini kami yakin mereka sudah sadar bahwa orang Autis itu bukan lah orang – orang seperti itu, namun orang – orang yang harus kita ajak berteman juga, bukannya di kucilkan karena kita itu sama –sama Manusia Ciptaan Tuhan.